Selasa, 24 Juni 2014

Kata Mutiara Dalam Al-Qur'an

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”
QS. Al Baqarah [2:212]

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
QS. Ali Imran [3:185]

“Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.”
QS. An Nisaa’ [4:77]

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
QS. Al Kahfi [18:45]

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”
QS. Ar Rum [30:7]

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” 
QS. Al hadid [57:20]

Kata Mutiara

“Dunia ini ibarat bayangan: kejar dia dan engkau tak akan pernah bisa menangkapnya; balikkan badanmu darinya dan dia tak punya pilihan lain kecuali mengikutimu.” – Ibnu al-Qayyim

“Kehilangan waktu itu lebih sulit daripada kematian, karena kehilangan waktu membuatmu jauh dari Allah dan Hari Akhir, sementara kematian membuatmu jauh dari kehidupan dunia dan penghuninya saja.” – Ibnu al-Qayyim

“Dunia ini hanya terdiri atas tiga hari: Kemarin, ia telah pergi bersama dengan semua yang menyertainya. Besok, engkau mungkin tak akan pernah menemuinya. Hari ini, itulah yang kau punya, jadi beramallah di sana.” – Hasan al Bashri

“Dan demikianlah rahasia dunia ini. Jika engkau membuang cinta dunia dari hatimu, dunia akan tersedia untuk engkau ambil. Engkau bisa memiliki dunia karena ia berada di tanganmu dan bukan di dalam hatimu.” – Hamzah Yusuf

“Setiap dan semua bagian dari dunia ini adalah perangkap bagi yang jahil dan perangkat kebahagiaan bagi yang bijak.” – Rumi

“Ketika cinta atas dunia memasuki hati, takut akan Akhirat akan keluar darinya. Berhati-hatilah dengan godaan dunia, karena tidak seorang hambapun yang membuka sebuah pintu dunia ini tanpa tertutupnya beberapa pintu Akhirat baginya.”  Hasan al Bashri

“Kita membangun kehidupan dunia ini dengan merobek-robek agama kita. Pada akhirnya, baik agama maupun dunia yang kita bangun tak lagi bersisa.” – Ibrahim bin Adham

“Jika saja dunia ini dijual di pasar, aku tak akan membelinya seharga sepotong roti karena semua permasalahan yang dimilikinya.” – Imam asy Syafi’i

“Dunia ini hanyalah kehancuran; lebih hancur lagi hati yang bekerja untuknya. Akhirat itu tumbuh; lebih berkembang lagi hati yang bekerja untuknya.” – Anonim

Memaafkan; Memberi Kesempatan

 Perlu disadari,
 bahwa memaafkan adalah melenyapkan keinginan diri
 untuk memberikan balasan atas sesuatu yang tidak disenangi.
 Maka jelas, memaafkan diganjar kebaikan luar biasa,
 karna menahan amarah yang menggema,
 pun mengganti 'pembalasan' yang boleh jadi tidak baik (meski ‘ingin’ rasanya),
 dengan mengikhlaskan atasnya.
 Sederhananya; kita punya hak untuk melakukan 'pembalasan',
 tetapi tidak kita pergunakan.

 Lantas, apakah memaafkan identik dengan memberikan kesempatan kedua, atau bahkan berterusan?

 Ini jelas dua hal yang berlainan.
 Memaafkan itu ibarat kunci pembuka pintu di sudut hati,
 yang tertutup rapat karna ulah sakit hati.
 Maka ini boleh jadi benar; fungsinya hanya membukakan pintu biar tidak senyap dan sunyi.

 Sedangkan memberi kesempatan untuk kesekian-sekian,
 adalah mempersilahkan sesuatu yang telah berbuat tidak menyenangkan,
 untuk lewat pintu hati tadi, lantas lagi-lagi bersinggungan.
 Memberi kesempatan kedua tentu lebih membawa beban,
 ketimbang memaafkan.

 Memberi kesempatan lagi,
 jelas memaksa diri untuk mempercayai kembali,
 seseorang yang telah menyakiti.
 Dan itu sulit, bukan?

 Terlebih hati setiap orang tidak sama.
 Ada yang mudah memberi kesempatan kedua, ketiga, bahkan lebih darinya.
 Namun di sisi lain ada orang yang sukar melakukannya.
 Sebenarnya, memberi maaf pun sudah luar biasa.

 Tetapi, coba kita cermati; ternyata Allah berulang-ulang,
 memberi kesempatan berupa perubahan bagi setiap orang.
 Kesempatan agar manusia memperbaiki diri,
 tidak hanya satu kali, tetapi berkali-kali.

 Lantas kita? Sesosok makhluk yang begitu banyak dosa? Dengan angkuhnya tidak mau memberikan kesempatan kedua?
 Ehm, dan lagi-lagi kita cuma manusia biasa.

 Satu hal lagi, kita tidak tahu masa depan, bukan?
 Andai di hari ini kita mampu memberi kesempatan kedua bagi seorang manusia,
 maka boleh jadi di suatu hari yang tidak kita duga,
 akan ada yang memberikan kesempatan kedua,
 disaat kita membutuhkannya.

 Ya, karna setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua,
 agar lebih baik dari sebelumnya.

 Agama mengajarkan memberi maaf itu keindahan,
 juga kedewasaan.

 Dan ini hanya pilihan;
 memaafkan lantas mempercayainya lagi,
 atau tidak mempercayainya lagi,
 meski sudah dimaafkan.

 "Cinta memberi ruang memaafkan,
 selama kesalahan bukan kebiasaan",
 begitu kata Asma Nadia.






-Asma Nadia-